Selasa, 10 Februari 2009

Cadangan Pakan Rumput Segar Menyusut

Cadangan rumput segar pakan ternak di kawasan hutan negara Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara diprediksi akan cepat menyusut pada tahun 2009. Hal itu disebabkan tidak seimbangnya produksi dibandingkan kebutuhan akibat meningkatnya populasi ternak, terutama sapi perah dan sapi potong.

Kasubsi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) KPH Bandung Utara, M. Firman, di Bandung, Senin (9/2) mengatakan, sulitnya produksi rumput pakan ternak akibat tidak baiknya budi daya, terutama rumput gajah (king grass) yang dibudidayakan petani peternak peserta PHBM. Di lain pihak, banyak pohon-pohon kehutanan yang memasuki masa dewasa sehingga menghambat kecepatan tumbuh rerumputan pakan ternak.

"Jika pengusahaan sapi di Bandung Utara ingin terpenuhi, terutama dari rerumputan segar, harus ada perimbangan dengan jumlah populasi. Apalagi, pasokan rumput pakan ternak dari KPH Bandung Utara sejauh ini menjadi andalan utama para peternak setempat," katanya. Tahun 2009 KPH Bandung Utara menambah areal PHBM rumput gajah 100 ha sehingga luas lahan menjadi 660 ha.

Menurut Firman, tidak seimbangnya cadangan rumput pakan ternak dengan jumlah kebutuhan, sebenarnya dapat diatasi jika para peternak sudah terbiasa menggunakan pakan yang diawetkan. Namun sejauh ini, minat peternak menggunakannya terindikasi masih rendah.

Kepala Dinas Peternakan Jabar, H. Koesmayadie, membenarkan bahwa sejauh ini andalan pasokan rumput pakan ternak di Bandung Utara memang berasal dari KPH Bandung Utara. Pasokan rumput pakan ternak, khususnya rumput gajah, masih menjadi kebutuhan utama bagi pakan ternak karena masih merupakan pakan terbaik.

Disebutkan, populasi ternak di Kab. Bandung secara umum memang meningkat pada tahun 2008, dibandingkan dengan 2007, untuk sapi potong yang 13.496 ekor terdiri 9.209 ekor jantan dan 4.287 ekor betina. Untuk sapi perah berjumlah 53.965 ekor terdiri 6.007 jantan betina dan 47.958 ekor betina.

"Populasi ternak sapi, termasuk sapi potong, memang tengah digenjot tahun 2009, untuk mencukupi kebutuhan daging masyarakat Jabar. Karena berbagai kondisi percepatannya jumlah populasi sapi potong hanya dapat diharapkan maksimal 18 persen sehingga kebutuhan daging masyarakat Jabar 71 persen akan dipasok melalui daging unggas," katanya.

Sementara itu, dokter hewan dr. Pamusureng, mengatakan, terus berkurangnya lahan cadangan rumput di sentra-sentra produksi peternakan akan menjadi kendala serius untuk kesehatan ternak bersangkutan, khususnya sapi. Apalagi pada musim kemarau, di mana peternak biasa memberi makan peliharaannya lebih banyak dengan konsentrat sehingga menimbulkan penyakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar